Kisah Perajin Batik Borobudur ‘Ditinggal’ Pembeli Imbas Covid-19

Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

JAKARTA – Kalangan perajin batik menyatakan permintaan buatan mereka semakin menurun apalagi sepi selama pandemi COVID-19. Penurunan penjualan batik dikeluhkan perajin batik di Desa Candirejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Perajin batik warga Dukuh Candirejo, Kecamatan Borobudur Sariyati (37) di Magelang, Selasa, menyampaikan hingga sekarang usahanya masih sepi karena tidak ada wisatawan yang muncul.

Mengaji Juga: Menkop Teten: Saatnya Milenial Jadi Petani dan Peternak

Perajin batik di Tempat Candirejo menggunakan pewarna daerah yang dibuat sendiri, antara lain menggunakan pewarna dari daun singkong, kulit rambutan, dan daun jambu.

Harga kain menggambar dengan pewarna alam itu berkisar Rp800 ribu maka Rp2, 5 juta mulai lembar.

Menurut nya selama pandemi ini seandainya ada wisatawan yang pegari mereka hanya belajar membatik di sapu tangan yang sudah menjadi satu paket dalam kunjungan, jarang sekali mereka membeli kain menggambar.

Baca Juga: Ada Pabrik Tempe di Jepang hingga Lumrah Sampai Meksiko

“Selama pandemi ini dalam satu kamar hanya laku satu tenggat dua lembar kain menggambar. Padahal, sebelum pandemi di satu minggu saja mampu laku puluhan lembar kain batik, ” katanya dilansir dari Antara, Sabtu (12/6/2021).

Perajin batik yang lain Atik (45) mengatakan dampak pandemi sangat dirasakan perajin batik dalam Desa Candirejo.

“Untung para perajin menulis disini mempunyai pekerjaan dengan lain, seperti bertani, berniaga, dan mengelola home stay sehingga tetap bisa menetap selama pandemi ini, ” katanya.